Skor Akhir: Inggris 6 - 4 Prancis
Lokasi: Hard Rock Stadium, Miami
Laga perebutan tempat ketiga sering kali dianggap sebagai "partai hiburan" bagi dua tim yang sedang patah hati. Namun, Inggris dan Prancis sukses menyulap laga di Hard Rock Stadium ini menjadi salah satu pertandingan paling gila, menghibur, dan tak terlupakan dalam sejarah Piala Dunia. Tercipta 10 gol—skor tertinggi di laga Piala Dunia sejak 1982—dalam sebuah rollercoaster emosi selama 90 menit.
Babak Pertama: Amukan Tiga Singa Tanpa Ampun
Sejak peluit babak pertama dibunyikan, Inggris asuhan Thomas Tuchel langsung tancap gas seolah ingin melampiaskan kekecewaan mereka di semifinal. Lini belakang Prancis tampak kebingungan menghadapi intensitas ini.
Hanya butuh 3 menit bagi Declan Rice untuk membuka keran gol, disusul tandukan tajam Ezri Konsa di menit ke-18. Prancis belum sempat bernapas ketika Bukayo Saka memulai pertunjukannya. Memanfaatkan kekacauan di sayap kiri pertahanan Les Bleus, bintang Arsenal ini mencetak dua gol indah sebelum turun minum (37', 45').
Skor 4-0 di babak pertama membuat suporter Inggris bersorak gembira, sementara wajah para pemain Prancis terlihat hancur saat berjalan menuju ruang ganti.
Babak Kedua: Teror Comeback Les Bleus
Didier Deschamps menolak menyerah. Pergantian pemain radikal di awal babak kedua, termasuk memasukkan Ousmane Dembélé dan Bradley Barcola, langsung menyuntikkan nyawa baru bagi Prancis.
Kylian Mbappé yang terisolasi di babak pertama tiba-tiba berubah menjadi monster. Ia memimpin kebangkitan Prancis dengan mencetak gol cepat di menit ke-47. Enam menit berselang, Barcola memperkecil ketertinggalan (53'), sebelum Mbappé kembali mencatatkan namanya di papan skor lewat tembakan keras di menit ke-65.
Dalam kurun waktu kurang dari 20 menit, skor berubah menjadi 4-3. Momentum sepenuhnya berada di tangan Prancis, dan kepanikan mulai terlihat jelas di wajah barisan pertahanan Tiga Singa.
Menit Kritis: Kedewasaan dan Penyelesaian Dramatis
Di tengah gempuran Prancis yang mencari gol penyeimbang, Inggris menunjukkan kematangan mentalnya. Alih-alih bertahan total, mereka mencoba mengendalikan ritme.
Petaka bagi Prancis datang di menit ke-87 ketika Inggris mendapat hadiah penalti. Bukayo Saka maju sebagai algojo dan dengan dingin menaklukkan kiper, mencetak hattrick-nya, sekaligus membuat skor menjadi 5-3.
Banyak yang mengira laga telah usai, namun masa injury time justru menghadirkan drama tambahan. Dembélé sempat membuka asa Prancis di menit ke-90+5, sebelum aksi solo run spektakuler Jude Bellingham di menit ke-90+8 memaku skor menjadi 6-4 dan menutup pertandingan yang luar biasa ini.
Momen Terbaik (Highlight)
-
Pemain Bintang: Bukayo Saka layak mendapatkan bola pertandingan. Hattrick yang ia ciptakan bukan sekadar gol biasa, melainkan pengunci mental tim di saat-saat paling krusial.
-
Momen Terbaik: Aksi brilian Jude Bellingham di detik-detik akhir pertandingan. Ketika fisik mayoritas pemain sudah terkuras habis, ia masih memiliki tenaga untuk berlari dari tengah lapangan dan mencetak gol penutup.
Kesimpulan
Bagi Inggris, ini adalah medali Piala Dunia pertama mereka di luar kandang sejak 1966—sebuah pencapaian masif di era Thomas Tuchel yang membuktikan bahwa generasi emas ini memiliki mental pemenang. Sementara bagi Prancis dan Didier Deschamps, meski harus pulang tanpa medali, semangat pantang menyerah yang mereka tunjukkan di babak kedua memastikan mereka pulang dengan kepala tegak dalam sebuah laga klasik yang akan dikenang sepanjang masa.